Kamis, 26 Februari 2015
MANFAAT MEMBACA AL-QUR’AN DAN KESEHATAN
Arti Qur’an menurut pendapat yang paling kuat seperti yang dikemukakan Dr. Subhi Al Salih berarti ‘bacaan’, asal kata qara`a.
Kata Alqur’an itu berbentuk masdar dengan arti isim maf’ul yaitu maqru` (dibaca).
Adapun definisi Alqur’an adalah: “Kalam Allah swt. yang merupakan mu’jizat yang diturunkan (diwahyukan) kepada nabi Muhammad saw. dan ditulis di mushaf dan diriwayatkan dengan mutawatir serta membacanya adalah ibadah.”
Banyak ayat Al Qur’an yang mengisyaratkan tentang pengobatan karena AlQur’an itu sendiri diturunkan sebagai penawar dan Rahmat bagi orang-orang yang mukmin.
“Dan kami menurunkan Al Qur’an sebagai penawar dan Rahmat untuk orang-orang yang mu’min.”
(QS. Al Isra/17: 82)
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tentram.”
(QS. Ar Ra’d/13: 28)
Menurut para ahli tafsir bahwa nama lain dari Al Qur’an yaitu “Asysyifâ” yang artinya secara Terminologi adalah Obat Penyembuh.
“Hai manusia, telah datang kepadamu kitab yang berisi pelajaran dari Tuhanmu dan sebagai obat penyembuh jiwa, sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.”
(QS. Yunus/10: 57)
Di samping Al Qur’an mengisyaratkan tentang pengobatan juga menceritakan tentang keindahan alam semesta yang dapat kita jadikan sebagai sumber dari pembuat obat- obatan.
“Dia menumbuhkan tanaman-tanaman untukmu, seperti zaitun, korma, anggur dan buah-buahan lain selengkapnya, sesungguhnya pada hal-hal yang demikian terdapat tanda-tanda Kekuasaan Allah bagi orang-orang yang mau memikirkan”.
(QS. An-Nahl 16:11)
“Dan makanlah oleh kamu bermacam-macam sari buah-buahan, serta tempuhlah jalan-jalan yang telah digariskan tuhanmu dengan lancar. Dari perut lebah itu keluar minuman madu yang bermacam-macam jenisnya dijadikan sebagai obat untuk manusia. Di alamnya terdapat tanda-tanda Kekuasaan Allah bagi orang-orang yang mau memikirkan”.
(QS. An-Nahl 16: 69)
Berdasarkan keterangan tadi, dapat dipastikan bahwa orang yang membaca Alqur’an akan merasakan ketenangan jiwa.
Banyak pula hadits Nabi yang menerangkan tentang keutamaan membacanya dan menghafalnya atau bahkan mempelajarinya.
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Alqur’an dan mengajarkannya.”
(HR Bukhori)
“Siapa saja yang disibukkan oleh Alqur’an dalam rangka berdzikir kepada-Ku, dan memohon kepada-Ku, niscaya Aku akan berikan sesuatu yang lebih utama daripada apa yang telah Aku berikan kepada orang-orang yang telah meminta. Dan keutamaannya Kalam Allah daripada seluruh kalam selain-Nya, seperti keutamaan Allah atas makhluk-Nya.”
(HR. At Turmudzi)
“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah (masjid) Allah, mereka membaca Alqur’an dan mempelajarinya, kecuali turun kepada mereka ketentraman, mereka diliputi dengan rahmat, malaikat menaungi mereka dan Allah menyebut-nyebut mereka pada makhluk yang ada di sisi-Nya”.
(HR. Muslim)
“Hendaklah kamu menggunakan kedua obat-obat: madu dan Alqur’an”
(HR. Ibnu Majah dan Ibnu Mas’ud)
Dan masih banyak lagi dalil yang menerangkan bahwa berbagai penyakit dapat disembuhkan dengan membaca atau dibacakan ayat-ayat Alqur’an
(lihat Assuyuthi, Jalaluddin, Al Qur’an sebagai Penyembuh (Alqur’an asy Syâfî), terj. Achmad Sunarto, Semarang, CV. Surya Angkasa Semarang, cet. I, 1995).
Walaupun tidak dibarengi dengan data ilmiah, Syaikh Ibrahim bin Ismail dalam karyanya Ta’lim al Muta’alim halaman 41, sebuah kitab yang mengupas tata krama mencari ilmu berkata,
“Terdapat beberapa hal yang dapat menyebabkan seseorang kuat ingatan atau hafalannya. Di antaranya, menyedikitkan makan, membiasakan melaksanakan ibadah salat malam, dan membaca Alquran sambil melihat kepada mushaf”. Selanjutnya ia berkata, “Tak ada lagi bacaan yang dapat meningkatkan terhadap daya ingat dan memberikan ketenangan kepada seseorang kecuali membaca Alqur’an”.
Dr. Al Qadhi, melalui penelitiannya yang panjang dan serius di Klinik Besar Florida Amerika Serikat, berhasil membuktikan hanya dengan mendengarkan bacaan ayat-ayat Alquran, seorang Muslim, baik mereka yang berbahasa Arab maupun bukan, dapat merasakan perubahan fisiologis yang sangat besar.
Penurunan depresi, kesedihan, memperoleh ketenangan jiwa, menangkal berbagai macam penyakit merupakan pengaruh umum yang dirasakan orang-orang yang menjadi objek penelitiannya. Penemuan sang dokter ahli jiwa ini tidak serampangan. Penelitiannya ditunjang dengan bantuan peralatan elektronik terbaru untuk mendeteksi tekanan darah, detak jantung, ketahanan otot, dan ketahanan kulit terhadap aliran listrik. Dari hasil uji cobanya ia berkesimpulan, bacaan Alquran berpengaruh besar hingga 97% dalam melahirkan ketenangan jiwa dan penyembuhan penyakit.
Penelitian Dr. Al Qadhi ini diperkuat pula oleh penelitian lainnya yang dilakukan oleh dokter yang berbeda. Dalam laporan sebuah penelitian yang disampaikan dalam Konferensi Kedokteran Islam Amerika Utara pada tahun 1984, disebutkan, Alquran terbukti mampu mendatangkan ketenangan sampai 97% bagi mereka yang men dengarkannya.
Kesimpulan hasil uji coba tersebut diperkuat lagi oleh penelitian Muhammad Salim yang dipublikasikan Universitas Boston. Objek penelitiannya terhadap 5 orang sukarelawan yang terdiri dari 3 pria dan 2 wanita. Kelima orang tersebut sama sekali tidak mengerti bahasa Arab dan mereka pun tidak diberi tahu bahwa yang akan diperdengarkannya adalah Alqur’an.
Penelitian yang dilakukan sebanyak 210 kali ini terbagi dua sesi, yakni membacakan Alquran dengan tartil dan membacakan bahasa Arab yang bukan dari Alqur’an. Kesimpulannya, responden mendapatkan ketenangan sampai 65% ketika mendengarkan bacaan Alquran dan mendapatkan ketenangan hanya 35% ketika mendengarkan bahasa Arab yang bukan dari Alqur’an.
Alquran memberikan pengaruh besar jika diperdengarkan kepada bayi. Hal tersebut diungkapkan Dr. Nurhayati dari Malaysia dalam Seminar Konseling dan Psikoterapi Islam di Malaysia pada tahun 1997. Menurut penelitiannya, bayi yang berusia 48 jam yang kepadanya diperdengarkan ayat-ayat Alquran dari tape recorder menunjukkan respons tersenyum dan menjadi lebih tenang.
Sungguh suatu kebahagiaan dan merupakan kenikmatan yang besar, kita memiliki Alquran. Selain menjadi ibadah dalam membacanya, bacaannya memberikan pengaruh besar bagi kehidupan jasmani dan rohani kita. Jika mendengarkan musik klasik dapat memengaruhi kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosi (EQ) seseorang, bacaan Alquran lebih dari itu. Selain memengaruhi IQ dan EQ, bacaan Alquran memengaruhi kecerdasan spiritual (SQ).
Mahabenar Allah yang telah berfirman, “Dan apabila dibacakan Alquran, simaklah dengan baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat”
(Q.S. 7: 204).
Atau juga, “Dan Kami telah menurunkan dari Alquran, suatu yang menjadi penawar (obat) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Alquran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian”
(Q.S.17:82).
Atau, “Ingatlah, hanya dengan berdzikir kepada Allah-lah hati menjadi tentram”
(Q.S. 13: 28).
Unsur Meditasi Al Qur’an
Kitab ini, tentu saja bukanlah sebuah buku sains ataupun buku kedokteran, namun Alqur’an menyebut dirinya sebagai ‘penyembut penyakit’, yang oleh kaum Muslim diartikan bahwa petunjuk yang dikandungnya akan membawa manusia pada kesehatan spiritual, psikologis, dan fisik.
Kesembuhan menggunakan Alqur’an dapat dilakukan dengan membaca, berdekatan dengannya, dan mendengarkannya. Membaca, mendengar, memperhatikan dan berdekatan dengannya ialah bahwasanya Alqur’an itu dibaca di sisi orang yang sedang menderita sakit sehingga akan turun rahmat kepada mereka.
Allah saw menjelaskan,
“Dan apabila dibacakan Alqur’an, maka dengarkanlah baik-baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.”
(QS. Al A’raf: 204)
Menurut hemat penulis, salah satu unsur yang dapat dikatakan meditasi dalam Alquran adalah, pertama, auto sugesti, dan kedua, adalah hukum- hukum bacaan yaitu waqaf.
Aspek Auto Sugesti
Alqur’an merupakan kitab suci umat Islam yang berisikan firman-firman Allah. Banyak sekali nasihat-nasihat, berita-berita kabar gembira bagi orang yang beriman dan beramal sholeh, dan berita-berita ancaman bagi mereka yang tidak beriman dan atau tidak beramal sholeh.
Maka, alqur’an berisikan ucapan-ucapan yang baik, yang dalam istilah Alqur’an sendiri, ahsan alhadits. Kata-kata yang penuh kebaikan sering memberikan efek auto sugesti yang positif dan yang akan menimbulkan ketenangan.
Platonov telah membuktikan dalam eksperimennya bahwa kata-kata sebagai suatu Conditioned Stimulus (Premis dari Pavlov) memang benar-benar menimbulkan perubahan sesuai dengan arti atau makna kata-kata tersebut pada diri manusia. Pada eksperimen Plotonov, kata-kata yang digunakan adalah tidur, tidur dan memang individu tersebut akhirnya tertidur.
Pikiran dan tubuh dapat berinteraksi dengan cara yang amat beragam untuk menimbul kan kesehatan atau penyakit.
Zakiah Daradjat mengatakan bahwa sembahyang, do’a-do’a dan permohonan ampun kepada Allah, semuanya merupakan cara-cara pelegaan batin yang akan mengembalikan ketenangan dan ketentraman jiwa kepada orang-orang yang melakukannya.
Relaksasi
Aspek Waqof
Alqur’an adalah sebuah kitab suci yang mempunyai kode etik dalam membacanya. Membaca Alqur’an tidak seperti membaca bacaan-bacaan lainnya. Membaca Alqur’an harus tanpa nafas dalam pengertian sang pembaca harus membaca dengan sekali nafas hingga kalimat-kalimat tertentu atau hingga tanda-tanda tertentu yang dalam istilah ilmu tajwid dinamakan waqaf. Jika si pembaca berhenti pada tempat yang tidak semestinya maka dia harus membaca ulang kata atau kalimat sebelumnya.
Waqof artinya berhenti di suatu kata ketika membaca Alqur’an, baik di akhir ayat maupun di tengah ayat dan disertai nafas. Mengikuti tanda-tanda waqof yang ada dalam Alqur’an, kedudukannya tidak dihukumi wajib syar’i bagi yang melanggarnya. Walaupun jika berhenti dengan sengaja pada kalimat-kalimat tertentu yang dapat merusak arti dan makna yang dimaksud, maka hukumnya haram.
Jadi cara membaca Alqur’an itu bisa disesuaikan dengan tanda-tanda waqaf dalam Alqur’an atau disesuaikan dengan kemampuan si pembaca dengan syarat bahwa bacaan yang dibacanya tidak berubah arti atau makna.
Waqaf dalam Alquran
- Tanda awal atau akhir ayat
- Tanda awal atau akhir surat
- Tanda-tanda waqaf
Kemampuan nafas pembaca
Siapa saja bisa boleh membaca Alqur?an, baik anak kecil, muda maupun tua, baik pria maupun wanita selagi mereka dalam keadaan suci atau berwudlu. Jadi bagaimanapun kemampuan mereka bernafas mereka boleh membaca Alqur’an. Berhenti berdasarkan kemampuan nafas pembaca, dalam ilmu tajwid, bisa dikategorikan dalam bagian-bagian waqaf.
Adapula beberapa penekanan nafas dalam membaca Alqur’an. Penekanan-penekanan tersebut dalam ilmu tajwid dinamakan mad.
Indonesia adalah negara yang mayoritas umat Islam menerapkan hukum-hukum membaca Alqur’an menurut Rowi, Hafsh, yang telah berguru kepada imam ‘Ashim. Adapun hukum-hukum bacaan mad dalam ilmu Tajwid menurut Rowi Hafsh adalah:
- Mad Munfashil,
yaitu apabila terdapat mad bertemu dengan hamzah dalam kalimat yang terpisah. Cara baca hukum ini 4 harakat. - Mad Badal,
yaitu apabila terdapat hamzah yang berharakat bertemu dengan huruf mad yang sukun. Cara membaca hukum ini adalah 2 harakat.
Waktu Meditasi dengan Alqur’an
Pada hakikatnya tidak ada waktu yang makruh untuk membaca/meditasi Alqur’an, hanya saja memang ada beberapa dalil yang menerangkan bahwa ada waktu-waktu yang lebih utama dari waktu-waktu yang lainnya untuk membaca Alqur’an. Waktu-waktu tersebut adalah:
1. Dalam sholat
An-Nawawi berkata;
‘Waktu-waktu pilihan yang paling utama untuk membaca Alqur’an ialah dalam sholat.’
Al Baihaqi meriwayatkan dalam asy Syu’ab dari Ka’ab r.a. ia berkata:
“Allah telah memilih negeri-negeri, maka negeri-negeri yang lebih dicintai Allah ialah negeri al Haram (Mekkah). Allah telah memilih zaman, maka zaman yang lebih dicintai Allah ialah bulan-bulan haram. Dan bulan yang lebih dicintai Allah ialah bulan dzulhijjah. Hari-hari bulan Dzulhijjah yang lebih dicintai Allah ialah sepuluh hari yang pertama. Allah telah memilih hari-hari, maka hari yang lebih dicintai Allah ialah hari Jum?at. Malam-malam yang lebih dicintai Allah ialah malam Qadar. Allah telah memilih waktu-waktu malam dan siang, maka waktu yang lebih dicintai Allah ialah waktu-waktu sholat yang lima waktu. Allah telah memilih kalam-kalam (perkataan), maka kalam yang dicintai Allah adalah lafadz ‘La ilâha illallâh wallâhu akbar wa subhanallâhi wal hamdulillâh.“
2. Malam hari
Waktu-waktu yang paling utama untuk membaca Alqur’an selain waktu sholat adalah waktu malam,
Allah menegaskan,
“Di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sholat).”
(QS. Ali Imron 3:113)
Waktu malam ini pun dibagi menjadi 2:
- Antara waktu Maghrib dan Isya
- Bagian malam yang terakhir
3. Setelah Subuh
Sebagai penutup mudah-mudahan ini merupakan langkah awal untuk bisa lebih membuktikan unsur-unsur kesehatan dari Alqur’an, baik makna-maknanya, cara membacanya maupun lainnya.
Dahsyatnya Keutamaan dan Manfaat Sholawat
Sebenarnya hadist-hadist yang menjelaskan keutamaan sholawat sangatlah
banyak, mengingat manfaat yang dapat diperoleh dengan bersholawat juga
sangat banyak. Berikut beberapa hadistnya:
Riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah r.a., Nabi saw. bersabda,
"Barang siapa bershalawat kepadaku satu kali, nicaya Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali."
Riwayat lainnya, dari Ibn Mas'ud r.a., Rasulullah bersabda,
"Sesungguhnya manusia yang paling utama di sisiku pada hari kiamat nanti adalah yang paling banyak memanjatkan shalawat untukku."
(HR Al-Tirmidzi dan Ibn Hibban)
Hadist lainnya menyebutkan,
"Orang yang kikir adalah orang yang disebut namaku di sisinya, tetapi dia tidak bershalawat kepadaku."
(HR Al-Tirmidzi, Al-Nasa'i, Ibn Hibban, dan Al-Hakim)
"Shalawat dari umatku akan ditujukan kepadaku setiap hari Jumat. Barang siapa paling banyak shalawatnya, niscaya ia lebih dekat kedudukannya denganku."
(HR Al-Baihaqi dan Abu Umamah)
Untuk lebih singkatnya, berikut ini saya rangkum manfaat-manfaat sholawat:
- Sejalan dengan Allah swt. dalam bershalawat kepada Rasulullah saw.
- Sejalan dengan malaikat dalam bershalawat kepada Rasulullah saw.
- Meraih sepuluh shalawat dari Allah swt.
- Diangkat sepuluh derajat atas kedudukannya di sisi Allah.
- Dituliskan baginya sepuluh kebaikan dan dihapuskan darinya sepuluh kejelekan.
- Dikabulkan segala doa yang dipanjatkannya.
- Meraih syafaat Nabi Muhammad saw.
- Diampuni segala dosa dan ditutup seluruh aib hidup.
- Mencapai segala sesuatu yang dicita-citakan.
- Mendekatkan diri seorang hamba kepada Rasul-Nya.
- Allah dan para malaikat akan bershalawat kepada orang yang membaca shalawat.
- Menyucikan dan membersihkan jiwa orang yang membaca shalawat.
- Membahagiakan seorang hamba dengan janji surga sebelum dia wafat.
- Shalawat menyelamatkan pembacanya dari segala kesulitan di hari kiamat.
- Shalawat menjadi faktor yang membuat Rasulullah saw. menjawab apa yang dibacanya.
- Membuat orang yang membacanya menjadi ingat atas segala hal yang dilupakannya.
- Shalawat menempatkan pembacanya pada majelis yang mulia dan tidak mengembalikannya kepad keadaan rugi di hari kiamat nanti.
- Menghilangkan perasaan bakhil.
- Sholawat menyelamatkan pembacanya dari kejahatan orang yang mendoakan keburukan baginya.
Berpikir Ala Ulama Ahlusunnah wal Jama’ah
Dewasa ini kelompok-kelompok baru dalam Islam
khususnya di Indonesia banyak bermunculan. Beragam bentuk dan aksi
ditampilkan sehingga menambah deretan panjang firqah-firqah
Islam yang sudah ada. Umat pun menjadi berpetak-petak, begitulah
pemandangan yang dapat kita lihat. Diantara beberapa kelompok, ada yang
berlebihan dalam meyakini jalan yang dibina oleh kelompoknya, sehingga
cenderung mengkafirkan kelompok lain yang tidak sepaham dengannya.
Seolah kalau bukan kelompoknya bukan kawan. Kawan hanya dalam
kelompoknya. Beberapa kelompok itu biasanya selalu bersikukuh
mempertahankan pendapatnya sendiri walaupun pendapatnya itu keliru.
Tiap-tiap kelompok sebenarnya memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk mencari kebenaran dalam hidup beragama. Hanya saja metode berpikir mereka yang salah. Hal inilah yang mengakibatkan mereka meleset dari makna kebenaran agama dan cenderung tersesat dan menyesatkan. Mereka terlalu mengandalkan rasionya dan dangkal dalam menafsirkan suatu Al-Qur’an dan Hadits.
Keadaan yang seperti ini ternyata membuat ulama Nahdlatul Ulama (NU) risau dan gelisah. Paham yang sudah dibina mulai dari puluhan tahun yang lalu, kini selalu disalahkan oleh kelompok yang tidak sepaham dengan NU. Warganya terus digoda dan dirayu supaya mengikuti paham kelompok-kelompok itu. Para ulama NU terus dirundung kekhawatiran. Sayang bagi warga NU kalau mengikuti jejak mereka itu.
Dan, akhirnya dari kekhawatiran, gelisahan, dan kerisauan itu, Nur Hidayat Muhammad tergerak untuk melawan dan membantengi warga NU dengan menerbitkan buku yang berjudul Siapakah Pengikut Salafus Shaleh? (Memahami Pola Keberagaman NU, Salafi Wahabi, HTI, MTA, dan LDII). Buku itu berisi perlawanan atas pernyataan kelompok-kelompok itu yang cenderung menyalahkan cara atau metode NU dalam beragama.
Misalnya tentang taqlid dan ittiba’. Salafi Wahabi menyatakan bahwa taqlid adalah sesuatu yang tercela, sedangkan ittiba’ adalah sesuatu yang terpuji. Namun pernyataan ini dijawab oleh Nur Hidayat Muhammad dalam bukunya itu, pertama secara mayoritas ulama ushul tidak pernah membedakan antara taqlid dan ittiba’. Kedua dalam Al-Qur’an terdapat ayat yang memuji ittiba’ dan mencela ittiba’. Yang mencela ittiba’ terdapat dalam surah Al-Baqarah: 166-167. Adapun yang memuji ittiba’ terdapat dalam surah Yusuf: 108.
Dari ayat-ayat itu mempertegas bahwa ittiba’ tidak hanya hanya berlaku perilaku yang terpuji saja, tetapi perilaku buruk dan tercela juga kadang disebut ittiba’. (hal 57-58) Intinya, pernyataan Salafi Wahabi yang membedakan kedua istilah tersebut, dipertanyakan dalil-dalilnya dalam buku yang ditulis oleh pengurus forum ustadz dalam wadah Forum Komunikasi Islam (FKI) di wilayah Solo itu.
Secara bahasa, buku itu mudah dimengerti oleh setiap kalangan masyarakat. Membacanya mudah menemukan titik-titik kontroversial antara Ahlusunnah wal Jam’ah dan kelompok-kelompok, meminjam bahasa Nur Hidayat, sempalan”, seperti Salafi Wahabi dan saudara-saudaranya, MTA, LDII, dan Tarbiyyah.
Bid’ah yang menuai pemahaman yang kontroversial dikalangan ulama juga ada di dalam buku itu. Buku itu menjelaskan tentang bid’ah menurut pandangan ulama Ahlusunnah wal Jama’ah dan pandangan kelompok lain itu. (hal 29-38)
Lain dari pada itu, buku yang setebal 159 halaman itu menyajikan bagaimana metode pemikiran ulama Ahlusunnah wal Jama’ah dalam menyikapi setiap dinamika kehidupan yang seirama dengan agama. Kita diajak kembali bagaimana berpikir seperti ulama Ahlusunnah wal Jama’ah yang tidak mengandalkan nafsu dan jauh dari kepentingan apapun dalam setiap memutuskan suatu problematika hukum dan menafsirkan suatu ayat dan Hadits.
Dengan kehadiran buku itu sebenarnya bagi mereka yang cenderung melihat pendapatnya sendiri yang paling benar seolah pendapatnya orang lain salah, perlu kerendahan hatinya ditingkatkan untuk menerima kehadirannya. Buku itu jangan diibaratkan simbol teriakan permusuhan. Buatlah buku itu untuk mengintrospeksi diri dan Anggaplah buku itu petunjuk untuk memulai langkah ke jalan yang benar. Walhasil, buku itu sangat baik dibaca oleh siapa saja. Wallahu a’lam.
Data Buku
Judul : Siapakah Pengikut Salafus Shaleh? (Memahami Pola Keberagaman NU, Salafi Wahabi, HTI, MTA, dan LDII)
Penulis : Nur Hidayat Muhammad
Penerbit : Muara Progresif Surabaya
Cetakan : I, Mei 2014
Tebal : xvi + 159 hal. 14,5 x 21 cm
Peresensi : Moh. Sardiyono, pelajar alumni PP. Nasyiatul Muta’allimin Gapura Sumenep Madura dan Mahasiswa di UIN Sunan Ampel Surabaya
Tiap-tiap kelompok sebenarnya memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk mencari kebenaran dalam hidup beragama. Hanya saja metode berpikir mereka yang salah. Hal inilah yang mengakibatkan mereka meleset dari makna kebenaran agama dan cenderung tersesat dan menyesatkan. Mereka terlalu mengandalkan rasionya dan dangkal dalam menafsirkan suatu Al-Qur’an dan Hadits.
Keadaan yang seperti ini ternyata membuat ulama Nahdlatul Ulama (NU) risau dan gelisah. Paham yang sudah dibina mulai dari puluhan tahun yang lalu, kini selalu disalahkan oleh kelompok yang tidak sepaham dengan NU. Warganya terus digoda dan dirayu supaya mengikuti paham kelompok-kelompok itu. Para ulama NU terus dirundung kekhawatiran. Sayang bagi warga NU kalau mengikuti jejak mereka itu.
Dan, akhirnya dari kekhawatiran, gelisahan, dan kerisauan itu, Nur Hidayat Muhammad tergerak untuk melawan dan membantengi warga NU dengan menerbitkan buku yang berjudul Siapakah Pengikut Salafus Shaleh? (Memahami Pola Keberagaman NU, Salafi Wahabi, HTI, MTA, dan LDII). Buku itu berisi perlawanan atas pernyataan kelompok-kelompok itu yang cenderung menyalahkan cara atau metode NU dalam beragama.
Misalnya tentang taqlid dan ittiba’. Salafi Wahabi menyatakan bahwa taqlid adalah sesuatu yang tercela, sedangkan ittiba’ adalah sesuatu yang terpuji. Namun pernyataan ini dijawab oleh Nur Hidayat Muhammad dalam bukunya itu, pertama secara mayoritas ulama ushul tidak pernah membedakan antara taqlid dan ittiba’. Kedua dalam Al-Qur’an terdapat ayat yang memuji ittiba’ dan mencela ittiba’. Yang mencela ittiba’ terdapat dalam surah Al-Baqarah: 166-167. Adapun yang memuji ittiba’ terdapat dalam surah Yusuf: 108.
Dari ayat-ayat itu mempertegas bahwa ittiba’ tidak hanya hanya berlaku perilaku yang terpuji saja, tetapi perilaku buruk dan tercela juga kadang disebut ittiba’. (hal 57-58) Intinya, pernyataan Salafi Wahabi yang membedakan kedua istilah tersebut, dipertanyakan dalil-dalilnya dalam buku yang ditulis oleh pengurus forum ustadz dalam wadah Forum Komunikasi Islam (FKI) di wilayah Solo itu.
Secara bahasa, buku itu mudah dimengerti oleh setiap kalangan masyarakat. Membacanya mudah menemukan titik-titik kontroversial antara Ahlusunnah wal Jam’ah dan kelompok-kelompok, meminjam bahasa Nur Hidayat, sempalan”, seperti Salafi Wahabi dan saudara-saudaranya, MTA, LDII, dan Tarbiyyah.
Bid’ah yang menuai pemahaman yang kontroversial dikalangan ulama juga ada di dalam buku itu. Buku itu menjelaskan tentang bid’ah menurut pandangan ulama Ahlusunnah wal Jama’ah dan pandangan kelompok lain itu. (hal 29-38)
Lain dari pada itu, buku yang setebal 159 halaman itu menyajikan bagaimana metode pemikiran ulama Ahlusunnah wal Jama’ah dalam menyikapi setiap dinamika kehidupan yang seirama dengan agama. Kita diajak kembali bagaimana berpikir seperti ulama Ahlusunnah wal Jama’ah yang tidak mengandalkan nafsu dan jauh dari kepentingan apapun dalam setiap memutuskan suatu problematika hukum dan menafsirkan suatu ayat dan Hadits.
Dengan kehadiran buku itu sebenarnya bagi mereka yang cenderung melihat pendapatnya sendiri yang paling benar seolah pendapatnya orang lain salah, perlu kerendahan hatinya ditingkatkan untuk menerima kehadirannya. Buku itu jangan diibaratkan simbol teriakan permusuhan. Buatlah buku itu untuk mengintrospeksi diri dan Anggaplah buku itu petunjuk untuk memulai langkah ke jalan yang benar. Walhasil, buku itu sangat baik dibaca oleh siapa saja. Wallahu a’lam.
Data Buku
Judul : Siapakah Pengikut Salafus Shaleh? (Memahami Pola Keberagaman NU, Salafi Wahabi, HTI, MTA, dan LDII)
Penulis : Nur Hidayat Muhammad
Penerbit : Muara Progresif Surabaya
Cetakan : I, Mei 2014
Tebal : xvi + 159 hal. 14,5 x 21 cm
Peresensi : Moh. Sardiyono, pelajar alumni PP. Nasyiatul Muta’allimin Gapura Sumenep Madura dan Mahasiswa di UIN Sunan Ampel Surabaya
Dahsyatnya Tiga Kata Ajaib
Dalam kehidupan sehari-hari, seorang individu
manusia tidak bisa lepas dari orang lain. Tidak mungkin seorang manusia
dapat menunaikan tugas kekhalifahannya secara mandiri. Tentu, dibutuhkan
peran dari individu yang lain. Karena itulah, manusia disebut sebagai
makhluk sosial. Dari segi perspektif agama (baca: Islam), manusia tentu
tidak dapat dilepaskan dari campur tangan Allah swt. Dengan kata lain,
ada dua jenis hubungan, yakni hubungan manusia dengan Tuhannya (hablum minallah) dan hubungan sesama manusia (hablum minannaas).
Setiap kali berhubungan dengan manusia maupun Tuhan (Allah swt), tentu dibutuhkan etika komunikasi. Komunikasi yang positif tentu akan memiliki dampak yang positif. Sebaliknya seringkali permusuhan terjadi, diakibatkan komunikasi yang negatif. Oleh karena itu, hadirnya buku ini patut diapresiasi secara baik. Mengapa? Dengan bahasa yang “renyah” namun “padat”, Salman Ali Rofiq, mengurai habis kemukjizatan tiga kata dalam praktik komunikasi sehari-hari.
Tiga kata tersebut adalah kata “tolong”, “maaf”, dan “terima kasih”. Tiga kata ini memiliki kekuatan yang luar biasa. Penulis buku ini menegaskan bahwa, jika kata ajaib ini diucapkan dengan cara yang benar dan tepat waktunya, ia mampu mengubah lawan menjadi kawan; mengubah benci menjadi cinta, bahkan menyulap amarah menjadi kasih sayang.
Kekuatan ketiga kata ajaib tersebut dikupas-tuntas dalam buku ini. Kelebihan buku ini, pembahasannya dilandasakan pada nilai-nilai ajaran Islam. Ketiga kata ajaib tersebut memiliki dasar hukum yang jelas dan diatur oleh ajaran agama. Dengan demikian, jika dalam etika berkomunikasi, kita mengamalkan ketiga kata tersebut, tentu hal ini berarti kita mengamalkan ajaran agama.
Dalam ajaran Islam, tolong-menolong, saling memaafkan, dan pandai berterima kasih dinilai sebagai perbuatan baik yang dijanjikan pahala bagi siapa saja yang melakukannya. Semua itu merupakan perintah langsung dari Allah swt kepada hamba-Nya. (hlm. 9). Beberapa firman Allah tentang tiga kata ini termaktub dalam al-Qur’an: 1) Surat Al-Maidah ayat 2 (tolong-menolong); 2) Surat Al-Hijr ayat 85 (memaafkan); dan 3) Surat Saba’ ayat 13 (berterima kasih).
Ketiga ayat tersebut, secara tegas menyiratkan kepada kita bahwa perbuatan tolong-menolong, memaafkan, dan berterima kasih merupakan perbuatan atau amalan yang telah digariskan Allah swt. Lebih lanjut, Rofiq (2014)-penulis buku ini, menyatakan bahwa secara teologis, perbuatan tolong-menolong, saling memaafkan, berterima kasih merupakan perbuatan yang berpahala. Namun, ketiganya juga merupakan perbuatan yang dapat menjadi faktor penentu bagi keberhasilan dan kesuksesan seseorang meraih cita-cita di dunia.
Adanya hikayat, kisah, kata mutiara yang mengandung pesan-pesan nilai kebaikan dari tiga kata ajaib, menjadikan buku ini memiliki nilai plus dibanding buku kebanyakan yang sudah lebih dulu terbit. Dengan pemaparannya yang luwes, penulis buku ini berusaha menyuguhkan kekuatan tiga kata ajaib tersebut secara konteksual. Artinya, penulis tidak dalam rangka melakukan “doktrinisasi” terhadap pembaca. Namun, penulis berupaya membuka ruang refleksi diri bagi pembaca dalam kehidupannya. Pembaca diajak untuk merenung diri yang dilandasi dengan ajaran agama dan pelbagai hikmah yang terkandung dalam cerita.
Tidak ada ruginya untuk memiliki buku ini. Didalamnya mengupas secara gamblang tentang kekuatan tiga kata ajaib. Sebagai manusia, sudah selayaknya, kita selalu mengedepankan etika komunikasi yang apik. Selalu tolong-menolong, saling memaafkan, dan suka berterima kasih. Jika kita berhasil merangkai ketiga kata ajaib ini dalam kehidupan, sungguh kita termasuk orang yang luar biasa.
Data buku:
Judul Buku : Tiga Kata Ajaib: Dahsyatnya Energi Ungkapan “Tolong”, “Maaf”, dan “Terima Kasih”
Penulis : Salman Ali Rofiq
Penerbit : DIVA Press, Yogyakarta
Cetakan : November 2014
Tebal : 252 Halaman
ISBN : 978-602-255-746-3
Peresensi : Abdul Halim Fathani, Alumnus Pascasarjana Universitas Negeri Malang
Setiap kali berhubungan dengan manusia maupun Tuhan (Allah swt), tentu dibutuhkan etika komunikasi. Komunikasi yang positif tentu akan memiliki dampak yang positif. Sebaliknya seringkali permusuhan terjadi, diakibatkan komunikasi yang negatif. Oleh karena itu, hadirnya buku ini patut diapresiasi secara baik. Mengapa? Dengan bahasa yang “renyah” namun “padat”, Salman Ali Rofiq, mengurai habis kemukjizatan tiga kata dalam praktik komunikasi sehari-hari.
Tiga kata tersebut adalah kata “tolong”, “maaf”, dan “terima kasih”. Tiga kata ini memiliki kekuatan yang luar biasa. Penulis buku ini menegaskan bahwa, jika kata ajaib ini diucapkan dengan cara yang benar dan tepat waktunya, ia mampu mengubah lawan menjadi kawan; mengubah benci menjadi cinta, bahkan menyulap amarah menjadi kasih sayang.
Kekuatan ketiga kata ajaib tersebut dikupas-tuntas dalam buku ini. Kelebihan buku ini, pembahasannya dilandasakan pada nilai-nilai ajaran Islam. Ketiga kata ajaib tersebut memiliki dasar hukum yang jelas dan diatur oleh ajaran agama. Dengan demikian, jika dalam etika berkomunikasi, kita mengamalkan ketiga kata tersebut, tentu hal ini berarti kita mengamalkan ajaran agama.
Dalam ajaran Islam, tolong-menolong, saling memaafkan, dan pandai berterima kasih dinilai sebagai perbuatan baik yang dijanjikan pahala bagi siapa saja yang melakukannya. Semua itu merupakan perintah langsung dari Allah swt kepada hamba-Nya. (hlm. 9). Beberapa firman Allah tentang tiga kata ini termaktub dalam al-Qur’an: 1) Surat Al-Maidah ayat 2 (tolong-menolong); 2) Surat Al-Hijr ayat 85 (memaafkan); dan 3) Surat Saba’ ayat 13 (berterima kasih).
Ketiga ayat tersebut, secara tegas menyiratkan kepada kita bahwa perbuatan tolong-menolong, memaafkan, dan berterima kasih merupakan perbuatan atau amalan yang telah digariskan Allah swt. Lebih lanjut, Rofiq (2014)-penulis buku ini, menyatakan bahwa secara teologis, perbuatan tolong-menolong, saling memaafkan, berterima kasih merupakan perbuatan yang berpahala. Namun, ketiganya juga merupakan perbuatan yang dapat menjadi faktor penentu bagi keberhasilan dan kesuksesan seseorang meraih cita-cita di dunia.
Adanya hikayat, kisah, kata mutiara yang mengandung pesan-pesan nilai kebaikan dari tiga kata ajaib, menjadikan buku ini memiliki nilai plus dibanding buku kebanyakan yang sudah lebih dulu terbit. Dengan pemaparannya yang luwes, penulis buku ini berusaha menyuguhkan kekuatan tiga kata ajaib tersebut secara konteksual. Artinya, penulis tidak dalam rangka melakukan “doktrinisasi” terhadap pembaca. Namun, penulis berupaya membuka ruang refleksi diri bagi pembaca dalam kehidupannya. Pembaca diajak untuk merenung diri yang dilandasi dengan ajaran agama dan pelbagai hikmah yang terkandung dalam cerita.
Tidak ada ruginya untuk memiliki buku ini. Didalamnya mengupas secara gamblang tentang kekuatan tiga kata ajaib. Sebagai manusia, sudah selayaknya, kita selalu mengedepankan etika komunikasi yang apik. Selalu tolong-menolong, saling memaafkan, dan suka berterima kasih. Jika kita berhasil merangkai ketiga kata ajaib ini dalam kehidupan, sungguh kita termasuk orang yang luar biasa.
Data buku:
Judul Buku : Tiga Kata Ajaib: Dahsyatnya Energi Ungkapan “Tolong”, “Maaf”, dan “Terima Kasih”
Penulis : Salman Ali Rofiq
Penerbit : DIVA Press, Yogyakarta
Cetakan : November 2014
Tebal : 252 Halaman
ISBN : 978-602-255-746-3
Peresensi : Abdul Halim Fathani, Alumnus Pascasarjana Universitas Negeri Malang
Selasa, 24 Februari 2015
Ketika Novel Menaklukkan Mitologi Gus Dur
Disebut berani, karena di novel itu sosok KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagi tema utama disajikan dalam bentuk monolog imajiner. Sehingga saat membaca novel ini kita seakan sedang membaca langsung penuturan Gus Dur. Dalam novel setebal 300 halaman ini kita akan melihat secara imajinatif bagaimana perasaan Gus Dur dalam melihat realitas kehidupan dirinya sendiri.
Tentu, pilihan artikulasi novel dengan "aku lirik" memiliki peluang resiko yang sangat besar, yakni subyektivitas. Tapi, itulah sastra. Sastra sebagai seni literasi selalu punya cara dalam menghadirkan ragam peristiwa. Dan setidaknya, Abdullah Wong sebagai penulis novel ini telah berhasil melompat sekat kebekuan dalam meliat Gus Dur.
Wong, demikian nama akrab penulis novel ini, bukan lagi melihat Gus Dur sebagai orang ketiga, tapi si penulis menempatkan diri untuk masuk dan tenggelam dalam Gus Dur, lalu menghadirkan diksi-diksinya.
Hal yang kedua adalah unik. Novel terbitan Expose ini dikatakan unik karena tidak sebagaimana buku atau novel yang lain, yang biasanya bercerita secara kronologis historis. Novel ini sangat liar. Kita akan diajak secara imajinatif oleh penulis untuk menyusup relung-relung kegelisahan Gus Dur tanpa permisi atau kulonuwun. Secara liar, penulis menghadirkan peristiwa demi peristiwa secara acak, sehingga memungkinkan para pembaca harus selalu terjaga dan tidak boleh lengah menyusuri kata per kata dari setiap bangunan novel ini.
Mungkin, penulis punya alasan. Alasan itu mungkin, di antaranya Gus Dur dianggap memiliki cara berpikir yang liar. Bahwa dalam berbagai kesempatan, Gus Dur memang dikenal selalu menyampaikan hal-hal yang secara tak terduga. Apa yang disampaikan Gus Dur kadang sering dipahami selalu lompat-lompat, tidak kronologis dan sistematis. Padahal, tak tentu Gus Dur memandang realitas secara demikian. Karena jika kita pahami secara saksama, Gus Dur sangat runtut dan sistematis ketika menyampaikan gagasan-gagasannya. Tapi, entah kenapa penulis novel ini menyajikan cerita Gus Dur tidak dengan cara demikian.
Mungkin itulah si penulis. Karena memang, jika kisah hidup Gus Dur ditampilkan dengan gaya kronologis, para pembaca akan mudah lelah dan menyerah karena dapat menebak ujung dari cerita pada novel ini. Sementara, hampir semua kalangan telah tahu--setidaknya sebagian kalangan--bagaimana alur kehidupan Gus Dur, baik sejarah hidup, pemikiran, karier, hingga kelakar-kelakarnya.
Dan strategi penulis novel ini cukup berhasil. Pembaca akan diajak melompat secara acak dan imajinatif. Lompatan penulis bukan hanya pada hal ruang, tapi juga waktu dan pemikiran. Itulah kemungkinan strategi penulis novel ini.
Dalam novel ini, kita akan menemukan bagaimana kecerdasan sekaligus kekonyolan Gus Dur, pendidikan pesantren yang ditempuh Gus Dur, pergulatan diri Gus Dur dengan ayahnya, hingga mimpi-mimpi besar Gus Dur. Tapi, lebih dari itu, novel yang dimulai dengan Gus Dur ketika masih di istana, membuat kita tersadar bahwa kiai nyentrik itu pernah menjabat sebagai presiden di negeri ini. Tentang batin Gus Dur ketika dirinya dilengserkan dari dalam istana misalnya, penulis dengan indah menulis,
"Sejak aku menginjakkan kaki di Istana, aku tak pernah tahu bagaimana wujud Istana negara ini. Perasaanku tetap sama seperti memasuki rumahrumah kalian, sahabatku. Jika di halaman Istana ini berkibar sang merah putih, begitu juga di halaman rumahku dan rumah kalian. Warna bendera kita memang sama, merah dan putih. Tapi untuk saat ini, hujan begitu lebat mengguyur halaman rumah kita. Sehingga bendera kita samasama tak bisa berkibar sempurna. Aku hanya berharap, hujan tak akan melunturkan merahputih kita. Karena aku sangat yakin, matahari akan segera datang. Selamat berjuang sahabatku, rakyat Indonesia. Perjalanan negeri ini masih sangat panjang. Selamat berjuang sahabatku, rakyat Indonesia."
Setelah kisah istana dipotret, penulis menukik jauh kepada sebuah peristiwa pembaptisan Gus Dur sebagai penakluk oleh ayahnya ketika masih bocah. Dari situ, penulis mulai menyeret peristiwa demi peristiwa dengan cara melompat, menukik, bahkan menyelam dan tenggelam di relung batin pribadi Gus Dur.
Selanjutnya, jika membaca novel Mata Penakluk ini, kita akan menemukan bahwa penulis belum selesai atau tuntas menghadirkan Gus Dur. Diduga kuat, penulis sengaja dan tengah menyiapkan kelanjutan novel ini. Mungkin, ini juga strategi lain dari penulis dalam menghadirkan Gus Dur yang memang selalu menghadirkan kontroversi sekaligus kesejukan bagi semua pihak.
Satu hal yang tak bisa dilewatkan, melalui novel ini, kita bisa melihat bagaimana ketika seorang santri menulis sastra pesantren, dengan menghadirkan sosok Gus Dur, yakni sosok yang sangat menghargai pesantren. Karena lewat Gus Dur pula, pesantren ditempatkan posisinya dalam kancah nasional bahkan internasional. Nah, dalam novel ini kita akan melihat bagaimana kehidupan pesantren, dimana Gus Dur sebagai tokoh utamanya.
Judul : Mata Penakluk
Penulis : Abdullah Wong
Penerbit : Expose
Tanggal terbit : Januari-2015
Jumlah Halaman : 301
Peresensi : Sofyan Tsauri
Al Qaeda: Dari Perang Afganistan sampai ISIS
Buku “Al Qaeda: Kajian Sosial Politik, Ideologi dan Sepak Terjangnya”
(2014) merupakan kelanjutan dari buku “Ideologi-Ideologi Pasca
Reformasi” yang diterbitkan tahun 2012. Menurut penulisnya, As’ad Said
Ali, kedua buku itu berangkat dari ambisi pribadnya untuk melakukan
kajian menyeluruh tentang gerakan-gerakan radikal.
Buku Al Qaeda terdiri dari 9 bab yang dimulai dengan cerita mengenai pengalaman pribadi penulis saat bertugas sebagai pejabat Badan Intelijen Negara (BIN) di Timur Tengah pada 1982 sampai 1990. Selanjutnya penulis menyampaikan uraian panjang lebar mengenai ideologi kaum jihadi dan Al Qaeda secara khusus. Pertemuannya secara tidak sengaja dan perkenalannya dengan pemimpin Al Qaeda Osama bin Laden menjadi titik poin tersendiri. As’ad Ali mencatat bahwa Perang Afghanistan sebagai sebuah permulaan terbentuknya jaringan jihad internasional dan mengenai gagasan pembentukan Al Qaeda. Penulis juga mengungkap pola pengorganisasiannya, serta operasi-operasinya pada tahap awal.
Bab 5 penulis menyampaikan uraian tambahan mengenai Jamaah Islamiyah dan hubungannya dengan Al Qaeda mengingat banyak orang salah kaprah, termasuk opini di sejumlah media, dalam memahami hubungan kedua organisasi ini. Bagaimana jaringan operasi dan rentetan aksi teror bom yang dilakukan Al Qaeda, disajikan dalam Bab 6 dan 7. Uraian dalam dua bab ini meliputi wilayah yang relatif luas, yakni Indonesia dan sejumlah negara di Asia Tenggara. Bab ini menggambarkan cukup menyeluruh mengenai operasi Al Qaeda di Asia Tenggara, dan bagaimana Asia Tenggara dijadikan pangkalan untuk menyerang sejumlah negara di kawasan lain.
Bab 8, merupakan bagian paling penting yang menyoroti generasi pasca Osama dan bagaimana dinamikanya. Osama tewas ditembak anggota pasukan elit Navy SEAL Amerika Serikat di Pakistan, pada Mei 2011. Pada bab ini penulis memulai pembahasan dengan menanyakan apakah setelah kematiannya itu, apakah Al Qaeda ikut hancur dan mati? Bagaimana dengan gerakan-gerakan jihad lainnya? Kenyataannya, kaum jihadi kini menemukan medan jihad baru di Syria, Iraq, dan kawasan Afrika. Bahkan telah lahir ISIS/ISIL (The Islamic State of Iraq and the Levant).
Bab terakhir, Bab 9 berisi uraian reflektif mengenai apa sesungguhnya penyebab Al Qaeda melakukan perlawanan global, dan mengapa akhirnya memilih cara kekerasan. Pada pagian epilog ini, penulis mengajukan rekomendasi, sebuah visi yang perlu dibangun untuk mengelola dan menciptakan perdamaian dunia. As’ad Said Ali yang juga Wakil Ketua Umum PBNU menilai bahwa masalah Al Qaeda sesungguhnya tidak bisa dipandang sekedar sebagai persoalan eksklusif negara semata. Atau lebih sempit lagi, urusan aparat keamanan. Al Qaeda adalah sebuah gerakan politik, dengan ideologi jihad yang kuat, mempunyai jaringan global dan skill militer. Visi politiknya terumuskan dalam sebuah kalimat yang sederhana: “menegakkan Islam dan melindungi kaum muslimin.”
Esensi ideologi Al Qaeda adalah jihad, dan pembentukan khilafah Islamiyah adalah suatu yang mutlak. Dengan ideologi seperti itu, kaum jihadi menyalahkan pemaknaan para ulama yang telah menjadi ijma’ selama berabad-abad, yang mengartikan jihad dalam arti qital (perang) hanyalah salah satu jenis saja dari jihad. Menurut As’ad, jihad yang lebih besar adalah mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil alamin. Al Qaeda menganggap jihad qital (perang) adalah fardhu ‘ain, sebagai satu-satunya jihad yang berlaku mutlak sejak turunnya surat At Taubah. Sedangkan ayat-ayat lain, yang mengandung perintah jihad lainnya, telah terhapus. Ini berati, khususnya masalah jihad, Al Qaeda menganggap mayoritas umat Islam mengikuti ajaran yang salah.
Kaum jihadi juga beranggapan bahwa pembentukan khilafah islamiyah adalah mutlak. Mereka menilai agama Islam tidak bisa dilaksanakan dengan sempurna jika tidak melalui Daulah Islamiyah (pemerintah Islam). Dengan demikian terbentuknya Daulah Islamiyah akan menjadi menara api yang akan mengumpulkan kaum muslimin dari semua tempat menjadi satu kesatuan di bawah pemimpin khalifah, meskipun memang tidak ada kesatuan pandangan di kalangan mereka sendiri mengenai apa yang dimaksud khilafah. Namun doktrin kekhalifahan tersebut telah menghasilkan doktrin lanjutan lainnya yang menyeramkan, yakni pengkafiran terhadap umat Islam yang tidak mendukung prinsip kekhalifahan tersebut. Padahal, umumnya para ulama berpendapat bahwa kata-kata khalifah atau khilafah yang terdapat dalam Al-Qur’an berarti “kepemimpinan umat” dalam arti yang luas, tidak berarti model pemerintahan.
Sementara itu fakta menunjukkan bahwa negara-negara muslim masih banyak yang belum berhasil membangun sistem politik yang dapat menggabungkan secara harmonis antara gagasan negara-bangsa dengan ajaran Islam. Barangkali baru sebagian saja yang berhasil. Itupun masih dalam proses, di antaranya adalah Indonesia dan sejumlah kecil negara Arab. Indonesia adalah contoh unik, bagaimana para ulama madzhab (madhzab maslahat) khususnya, NU, Muhammdiyah dan ormas lainnya, bersama tokoh-tokoh nasionalis, Muslim maupun Non Muslim, mampu merumuskan suatu dasar negara yang secara esensial sama sekali tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip agama. Bahkan dapat dikatakan pada basis prinsip-prinsip itulah negara ini ditegakkan atas dasar pesan moral rahmatan lil-‘alamin. Itulah Pancasila, sebuah rumusan cerdas mengatasi problem dikotomis, sekuler versus teokrasi, yang dihadapi dunia Islam saat itu. Meski demikian, negara-negara yang relatif berhasil itupun kini dihadapkan dengan tantangan-tantangan barunya.
Penting dicatat, bahwa gerakan jihadis dan gerakan-gerakan ideologis Islam radikal lainnya, kelahirannya juga dirangsang oleh, dan sebagai respon atas, kekecewaan yang mendalam terhadap negerinya, yang dinilai telah terseret ke dalam situasi amoral, sekuler, libertarianisme dan semakin jauh dari cita-cita masyarakat teokratis. Sementara, kaum pembaharu Islam yang mulai berkibar menjelang runtuhnya khalifah Usmaniyah Turki, dinilai telah gagal membangun sistem politik yang memadai dengan situasi baru pasca perang dunia I. Derita Palestina dan sejumlah kawasan Islam lainnya, juga ditunjuk sebagai bukti bahwa penguasa-penguasa negeri muslim secara politik makin lemah dan kehilangan sikap independen; kemudian dicap sebagai thoghut yang mesti diperanginya.
Dengan demikian, dilihat dari sisi ini, secara moral lahirnya gerakan-gerakan radikal tidak dapat dipersalahkan. Sama halnya kita tidak dapat mempersalahkan lahirnya gerakan-gerakan liberal-sekuler. Keduanya adalah produk sejarah, yakni modernisasi.
Menurut As’ad, tugas penyelenggara negara dan kaum intelektual adalah menumbuhkan sistem politik yang mampu memperbaharui dirinya secara terus-menerus, untuk merespons kritik dan tuntutan-tuntutan baru yang juga terus lahir. Dalam kasus Indonesia, reformasi jangan justru menimbulkan disorientasi pada bangsa ini. Ini bukan sekedar persoalan membangun hubungan antara inisiatif pemerintah dengan partisispasi rakyat, atau bagaimana membangun tingkat kemampuan sistem politik mendorong proses perkembangan di bidang lain, namun semacam proses nation and character building dengan kedalaman dan dimensi yang lebih kekinian.
Data Buku
Judul : Al Qaeda: Kajian Sosial Politik, Ideologi dan Sepak Terjangnya
Penulis : DR H As’ad Said Ali
Penerbit : LP3ES Jakarta
Tahun : Cetakan I, September 2014
Tebal : xxvi + 438 hlm
ISBN : 978-602-7984-11-0
Harga : Rp. 80.000,-
Peresensi : A.Khoirul Anam
Buku Al Qaeda terdiri dari 9 bab yang dimulai dengan cerita mengenai pengalaman pribadi penulis saat bertugas sebagai pejabat Badan Intelijen Negara (BIN) di Timur Tengah pada 1982 sampai 1990. Selanjutnya penulis menyampaikan uraian panjang lebar mengenai ideologi kaum jihadi dan Al Qaeda secara khusus. Pertemuannya secara tidak sengaja dan perkenalannya dengan pemimpin Al Qaeda Osama bin Laden menjadi titik poin tersendiri. As’ad Ali mencatat bahwa Perang Afghanistan sebagai sebuah permulaan terbentuknya jaringan jihad internasional dan mengenai gagasan pembentukan Al Qaeda. Penulis juga mengungkap pola pengorganisasiannya, serta operasi-operasinya pada tahap awal.
Bab 5 penulis menyampaikan uraian tambahan mengenai Jamaah Islamiyah dan hubungannya dengan Al Qaeda mengingat banyak orang salah kaprah, termasuk opini di sejumlah media, dalam memahami hubungan kedua organisasi ini. Bagaimana jaringan operasi dan rentetan aksi teror bom yang dilakukan Al Qaeda, disajikan dalam Bab 6 dan 7. Uraian dalam dua bab ini meliputi wilayah yang relatif luas, yakni Indonesia dan sejumlah negara di Asia Tenggara. Bab ini menggambarkan cukup menyeluruh mengenai operasi Al Qaeda di Asia Tenggara, dan bagaimana Asia Tenggara dijadikan pangkalan untuk menyerang sejumlah negara di kawasan lain.
Bab 8, merupakan bagian paling penting yang menyoroti generasi pasca Osama dan bagaimana dinamikanya. Osama tewas ditembak anggota pasukan elit Navy SEAL Amerika Serikat di Pakistan, pada Mei 2011. Pada bab ini penulis memulai pembahasan dengan menanyakan apakah setelah kematiannya itu, apakah Al Qaeda ikut hancur dan mati? Bagaimana dengan gerakan-gerakan jihad lainnya? Kenyataannya, kaum jihadi kini menemukan medan jihad baru di Syria, Iraq, dan kawasan Afrika. Bahkan telah lahir ISIS/ISIL (The Islamic State of Iraq and the Levant).
Bab terakhir, Bab 9 berisi uraian reflektif mengenai apa sesungguhnya penyebab Al Qaeda melakukan perlawanan global, dan mengapa akhirnya memilih cara kekerasan. Pada pagian epilog ini, penulis mengajukan rekomendasi, sebuah visi yang perlu dibangun untuk mengelola dan menciptakan perdamaian dunia. As’ad Said Ali yang juga Wakil Ketua Umum PBNU menilai bahwa masalah Al Qaeda sesungguhnya tidak bisa dipandang sekedar sebagai persoalan eksklusif negara semata. Atau lebih sempit lagi, urusan aparat keamanan. Al Qaeda adalah sebuah gerakan politik, dengan ideologi jihad yang kuat, mempunyai jaringan global dan skill militer. Visi politiknya terumuskan dalam sebuah kalimat yang sederhana: “menegakkan Islam dan melindungi kaum muslimin.”
Esensi ideologi Al Qaeda adalah jihad, dan pembentukan khilafah Islamiyah adalah suatu yang mutlak. Dengan ideologi seperti itu, kaum jihadi menyalahkan pemaknaan para ulama yang telah menjadi ijma’ selama berabad-abad, yang mengartikan jihad dalam arti qital (perang) hanyalah salah satu jenis saja dari jihad. Menurut As’ad, jihad yang lebih besar adalah mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil alamin. Al Qaeda menganggap jihad qital (perang) adalah fardhu ‘ain, sebagai satu-satunya jihad yang berlaku mutlak sejak turunnya surat At Taubah. Sedangkan ayat-ayat lain, yang mengandung perintah jihad lainnya, telah terhapus. Ini berati, khususnya masalah jihad, Al Qaeda menganggap mayoritas umat Islam mengikuti ajaran yang salah.
Kaum jihadi juga beranggapan bahwa pembentukan khilafah islamiyah adalah mutlak. Mereka menilai agama Islam tidak bisa dilaksanakan dengan sempurna jika tidak melalui Daulah Islamiyah (pemerintah Islam). Dengan demikian terbentuknya Daulah Islamiyah akan menjadi menara api yang akan mengumpulkan kaum muslimin dari semua tempat menjadi satu kesatuan di bawah pemimpin khalifah, meskipun memang tidak ada kesatuan pandangan di kalangan mereka sendiri mengenai apa yang dimaksud khilafah. Namun doktrin kekhalifahan tersebut telah menghasilkan doktrin lanjutan lainnya yang menyeramkan, yakni pengkafiran terhadap umat Islam yang tidak mendukung prinsip kekhalifahan tersebut. Padahal, umumnya para ulama berpendapat bahwa kata-kata khalifah atau khilafah yang terdapat dalam Al-Qur’an berarti “kepemimpinan umat” dalam arti yang luas, tidak berarti model pemerintahan.
Sementara itu fakta menunjukkan bahwa negara-negara muslim masih banyak yang belum berhasil membangun sistem politik yang dapat menggabungkan secara harmonis antara gagasan negara-bangsa dengan ajaran Islam. Barangkali baru sebagian saja yang berhasil. Itupun masih dalam proses, di antaranya adalah Indonesia dan sejumlah kecil negara Arab. Indonesia adalah contoh unik, bagaimana para ulama madzhab (madhzab maslahat) khususnya, NU, Muhammdiyah dan ormas lainnya, bersama tokoh-tokoh nasionalis, Muslim maupun Non Muslim, mampu merumuskan suatu dasar negara yang secara esensial sama sekali tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip agama. Bahkan dapat dikatakan pada basis prinsip-prinsip itulah negara ini ditegakkan atas dasar pesan moral rahmatan lil-‘alamin. Itulah Pancasila, sebuah rumusan cerdas mengatasi problem dikotomis, sekuler versus teokrasi, yang dihadapi dunia Islam saat itu. Meski demikian, negara-negara yang relatif berhasil itupun kini dihadapkan dengan tantangan-tantangan barunya.
Penting dicatat, bahwa gerakan jihadis dan gerakan-gerakan ideologis Islam radikal lainnya, kelahirannya juga dirangsang oleh, dan sebagai respon atas, kekecewaan yang mendalam terhadap negerinya, yang dinilai telah terseret ke dalam situasi amoral, sekuler, libertarianisme dan semakin jauh dari cita-cita masyarakat teokratis. Sementara, kaum pembaharu Islam yang mulai berkibar menjelang runtuhnya khalifah Usmaniyah Turki, dinilai telah gagal membangun sistem politik yang memadai dengan situasi baru pasca perang dunia I. Derita Palestina dan sejumlah kawasan Islam lainnya, juga ditunjuk sebagai bukti bahwa penguasa-penguasa negeri muslim secara politik makin lemah dan kehilangan sikap independen; kemudian dicap sebagai thoghut yang mesti diperanginya.
Dengan demikian, dilihat dari sisi ini, secara moral lahirnya gerakan-gerakan radikal tidak dapat dipersalahkan. Sama halnya kita tidak dapat mempersalahkan lahirnya gerakan-gerakan liberal-sekuler. Keduanya adalah produk sejarah, yakni modernisasi.
Menurut As’ad, tugas penyelenggara negara dan kaum intelektual adalah menumbuhkan sistem politik yang mampu memperbaharui dirinya secara terus-menerus, untuk merespons kritik dan tuntutan-tuntutan baru yang juga terus lahir. Dalam kasus Indonesia, reformasi jangan justru menimbulkan disorientasi pada bangsa ini. Ini bukan sekedar persoalan membangun hubungan antara inisiatif pemerintah dengan partisispasi rakyat, atau bagaimana membangun tingkat kemampuan sistem politik mendorong proses perkembangan di bidang lain, namun semacam proses nation and character building dengan kedalaman dan dimensi yang lebih kekinian.
Data Buku
Judul : Al Qaeda: Kajian Sosial Politik, Ideologi dan Sepak Terjangnya
Penulis : DR H As’ad Said Ali
Penerbit : LP3ES Jakarta
Tahun : Cetakan I, September 2014
Tebal : xxvi + 438 hlm
ISBN : 978-602-7984-11-0
Harga : Rp. 80.000,-
Peresensi : A.Khoirul Anam
Langganan:
Postingan (Atom)






















